Rumah Adat Sumatera Utara

Rumah adat Sumatera Utara | SakuilmuRumah adat Sumatera Utara merupakan rumah adat yang dapat ditemukan di berbagai daerah di Provinsi Sumatera Utara. Hampir beberapa etnis yang ada di Sumatera Utara (Sumut) ini memiliki rumah adat yang khas. Beberapa etnis tersebut antara lain adalah Batak Karo, Toba, Mandailing, Angkola, Batak Pesisir, Simalungun, Pakpak dan Suku Nias disamping beberapa lainnya seperti Melayu, Minangkabau, Jawa, Sunda dan Tionghoa.

Indonesia memang sungguh kaya, dalam satu Provinsi saja memiliki beragam budaya dan adat istiadatnya. Tidak luput dengan Provinsi Sumatera Utara yang memiliki beragam seni dalam arsitektur bangunan berupa rumah adat nya. Pada artikel ini, Sakuilmu akan menguak keberadaan 9 Rumah Adat Sumatera Utara.

Rumah Adat Sumatera Utara

Rumah Adat Sumatera Utara
Rumah Adat Sumatera Utara

Berikut penjelasan dari 9 Rumah Adat Sumatera Utara :

Rumah Bolon

Rumah bolon merupakan simbol dari Rumah Adat Sumatera Utara. Rumah Bolon adalah simbol dari identitas masyarakat Batak yang tinggal di Sumatera Utara. Pada zaman dahulu kala, rumah Bolon adalah tempat tinggal dari 13 raja yang tinggal di Sumatera Utara.

13 Raja tersebut adalah Raja Ranjinman, Raja Nagaraja, Raja Batiran, Raja Bakkaraja, Raja Baringin, Raja Bonabatu, Raja Rajaulan, Raja Atian, Raja Hormabulan, Raja Raondop, Raja Rahalim, Raja Karel Tanjung, dan Raja Mogam. Dari 13 raja tersebut meninggalkan berbagai peninggalan rumah bolon. Ada beberapa jenis rumah Bolon dalam masyarakat Batak yaitu rumah Bolon Toba, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Mandailing, rumah Bolon Pakpak, rumah Bolon Angkola

Bentuk Rumah Bolon

Rumah Bolon merupakan rumah panggung dengan bentuk persegi empat. Ketinggian  Rumah Adat Sumatera Utara ini  sekitar 1,75 meter dari tanah. Tingginya rumah Bolon menyebabkan penghuni rumah atau tamu yang hendak masuk ke dalam rumah harus menggunakan tangga.

Tangga rumah Bolon terletak di tengah-tengah badan rumah. Hal ini mengakibatkan jika tamu atau penghuni rumah harus menunduk untuk berjalan ke tangga. Bagian dalam rumah Bolon adalah sebuah ruang kosong yang besar dan terbuka tanpa kamar. Rumah berbentuk persegi empat ini ditopang oleh tiang-tiang penyangga. Tiang-tiang ini menopang tiap sudut rumah termasuk juga lantai dari rumah Bolon. Rumah Bolon memiliki atap yang melengkung pada bagian depan dan belakang. Rumah Bolon memilik atap yang berbentuk seperti pelana kuda.

Ciri Khas Rumah Bolon

Ciri Khas Rumah Bolon yang merupakan salah satu rumah adat Sumatera Utara ini antara lain :
  • Lantai rumah Bolon terbuat dari papan dan atap rumah bolon terbuat dari ijuk atau daun rumbia.
  • Bagian dalam rumah Bolon adalah ruangan besar yang tidak terbagi-bagi atas kamar. Namun, tidak berarti bahwa tidak ada pembagian ruang di dalam rumah Bolon.
  • Ruangan terbagi atas tiga bagian yaitu jabu bona atau ruangan belakang di sudut sebelah kanan, ruangan jabu soding yang berada di sudut sebelah kiri yang berhadapan dengan jabu bona, ruangan jabu suhat yang berada di sudut kiri depan, ruangan tampar piring yang berada di sebelah jabu suhat, dan ruangan Jabu Tongatonga ni Jabu Bona. Ruangan jabu bona dikhususkan bagi keluarga kepala rumah. Ruangan jabu soding dikhususkan bagi anak perempuan pemilik ruma, tempat para istri tamu yang datang dan tempat diadakannya upacara adat. Ruangan jabu suhat dikhususkan bagi anak lelaki tertua yang telah menikah. Ruangan tampar piring adalah ruangan bagi tamu. ruangan Jabu Tongatonga ni Jabu Bona dikhususkan bagi keluarga besar. Sebagian besar dari rumah Bolon terbuat dari kayu. Rumah Bolon tidak menggunakan paku. Rumah Bolon hanya menggunakan tali untuk menyatukan bahan-bahan rumah. Tali ini diikatkan kepada kayu dengan kuat agar rangka rumah tidak longgar ataupun rubuh suatu saat. Pada badan rumah Bolon terdapat berbagai ukiran maupun gambar yang memiliki makna sesuai dengan kehidupan masyarakat Batak.

Rumah Adat Karo

Rumah adat suku Karo, sebagai Gerga adalah tempat tinggal sang Raja yang penuh dengan motif ukiran penuh makna. Rumah adat Karo yang sebagai salah satu bentuk rumah adat Sumatera Utara yang populer adalah rumah adat Si Waluh Jabu.

Sebenarnya Rumah Adat Karo terdiri dari beberapa jenis yaitu Gerga, Belang Ayo, Si Waluh Jabu, Sepuluh jabu, Sepuluh dua Jabu, Sepuluh Enam Jabu, Si Enam Jabu, Si Empat Jabu, Jambur, Griten, Sapo Page, Lesung dan Keben. Informasi mengenai jenis rumah adat karo tersebut dapat dibaca dalam artikel Rumah Adat Karo.
Sepulu Dua Jabu (Collectie Tropen Museum, Netherland)
Sepulu Dua Jabu(Collectie Tropen Museum, Netherland)


Rumah Adat Pakpak

Suku Batak Pakpak adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Pulau Sumatera Indonesia. Tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh, yakni di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah (Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam (Provinsi Aceh)

Rumah adat Pakpak merupakan salah satu Rumah Adat Sumatera Utara yang memiliki bentuk khas yang dibuat dari bahan kayu dengan atap dari bahan ijuk. Bentuk desain Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara selain sebagai wujud seni budaya Pakpak, setiap bentuk desain dari bagian-bagian Rumah Adat Pakpak tersebut memiliki arti tersendiri. Jika diteliti dengan cermat dan diketahui maknanya, maka cukup dengan melihat rumah adat Pakpak akan bisa mendeskripsikan bagaimana Suku Pakpak berbudaya.

Bentuk Rumah Adat Pak Pak

Bubungan atap : Bentuk melengkung, dalam bahasa Daerah Pakpak-Dairi disebut: “Petarik-tarik Mparas ingenken ndengel”, artinya: “Berani memikul resiko yang berat dalam mempertahankan adat istiadat”.

Tampuk bubungan yang bersimbolkan “Caban”, artinya : “Simbol kepercayaan Puak Pakpak“
Tanduk kerbau yang melekat dibubungan atap, artinya: “Semangat kepahlawanan Puak Pakpak”.
Bentuk segitiga pada Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara, artinya menggambarkan susunan adat istiadat Puak Pakpak dalam kekeluargaan yang terbagi atas tiga bahagian atau unsur besar sebagai berikut:
(a). SENINA, adalah saudara kandung laki laki,
(b). BERRU, adalah saudara kandung perempuan,
(c). PUANG”, adalah kemanakan.

Dua buah tiang besar disebelah muka rumah “Binangun”, artinya “Kerukunan rumah tangga antara suami istri”.

Satu buah balok besar yang dinamai “Melmellon” Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara yang melekat disamping muka rumah, menggambarkan “Kesatuan dan Persatuan dalam segala bidang pekerjaan melalui musyawarah, atau lebih tepat disebut “Gotong royong”.

Ukiran-ukiran yang terdapat pada segitiga muka Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara yang bentuknya bermacam macam corak, dalam bahasa daerah Pakpak disebut:
(a). Perbunga Kupkup,
(b). Perbunga kembang,
(c). Perbunga Pancur, dan sebagainya yang menggambarkan bahwa puak Pakpak pun berdarah dan berjiwa seni.

Tangga Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara yang biasanya terdiri dari bilangan ganjil, 3 (tiga), 5 (lima) dan 7 (tujuh), menggambarkan bahwa penghuni rumah itu adalah keturunan raja (marga tanah), sebaliknya yang memakai tangga rumah genap, menandakan bahwa penghuni rumah tersebut bukan keturunan marga tanah (genengen).

Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara
Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara


Rumah Adat Mandailing

Rumah Adat Batak Mandailing disebut sebagai Bagas Godang sebagai kediaman para raja, terletak disebuah kompleks yang sangat luas dan selalu didampingi dengan Sopo Godang sebagai balai sidang adat. Bangunannya mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil sebagaimana juga jumlah anak tangganya.

Bangunan arsitektur tradisional Rumah Adat Sumatera Utara yaitu Batak Mandailing adalah bukti budaya fisik yang memiliki peradaban yang tinggi. Sisa-sisa peninggalan arsitektur tradisional Batak Mandailing masih dapat kita lihat sampai sekarang ini dan merupakan salah satu dari beberapa peninggalan hasil karya arsitektur tradisional bangsa Indonesia yang patut mendapat perhatian dan dipertahankan oleh Pemerintah dan masyarakat baik secara langsung baik tidak langsung.

Rumah Adat Batak Mandailing Sumatera Utara (Foto: dprdmadina.blogspot.com)
Rumah Adat Batak Mandailing Sumatera Utara (Foto: dprdmadina.blogspot.com)


Bagas Godang merupakan rumah berarsitektur Mandailing dengan konstruksi yang khas. Berbentuk empat persegi panjang yang disangga kayu-kayu besar berjumlah ganjil. Ruang terdiri dari ruang depan, ruang tengah, ruang tidur, dan dapur. Terbuat dari kayu, berkolong dengan tujuh atau sembilan anak tangga, berpintu lebar dan berbunyi keras jika dibuka. Kontruksi atap berbentuk tarup silengkung dolok, seperti atap pedati. Satu komplek dengan Bagas Godang terdapat Sopo Godang, Sopo Gondang, Sopo Jago, dan Sopo Eme. Keseluruhan menghadap ke Alaman Bolak.

Rumah Adat Angkola

Rumah adat Angkola yang merupakan rumah adat etnis batak angkola merupakan kekayaan Rumah Adat Sumatera Utara. Rumah adat angkola juga disebut dengan Bagas Godang seperti rumah adat Mandailing. Tetapi, terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya.

Rumah adat Angkola yang ada di Sumut, atapnya menggunakan bahan dari ijuk dan dinding serta lantainya dari papan. Keistimewaan rumah adat ini terletak pada warna dominan yaitu, hitam.

Rumah Angkola, Rumah Adat Sumatera Utara
Rumah Angkola, Rumah Adat Sumatera Utara

Rumah Adat Simalungun

Rumah adat Sumatera Utara yang berasal dari etnis Simalungun berbentuk panggung dengan lantai yang sebagian disangga balok-balok besar berjajar secar horizontal bersilangan. Balok-balok ini menumpu pada pondasi umpak. Dinding rumah agak miring dan memilliki sedikit bukaan/jendela. Atapnya memilliki kemiringan yang curam dengan bentuk perisai pada sebagian besar sisi bawah, sedang sisi atas berbentuk pelana dengan gevel yang miring menghadap ke bawah. Pada ujung atas gevel biasanya dihiasi dengan kepala kerbau. Tanduknya dari kerbau asli dan kepalanya dari injuk yang dibentuk. Bagian-bagian konstruksi Rumah Adat Batak Simalungun Bolon diukir, dicat serta digambar dengan warna merah, putih dan hitam. Selain sarat dengan nilai filosofis, ornamentasi rumah memiliki keunggulan dekoratif dalam memadukan unsur alam dan manusia dengan unsur geometris.

Rumah Bolon Raja Purba di Pematang Purba, Simalungun. (Foto: Wikipedia)
Rumah Bolon Raja Purba di Pematang Purba, Simalungun. (Foto: Wikipedia)

Rumah Balai Batak Toba

Rumah Balai Batak Toba adalah rumah adat Sumatera Utara yang berasal dari suku Batak Toba. Rumah ini terbagi atas dua bagian yaitu jabu parsakitan dan jabu bolon. Jabu parsaktian adalah tepaoppaoaoapmpat penyimpanan barang. Tempat ini juga terkadang dipakai sebagai tempat untuk pembicaraan terkait dengan hal-hal adat. Jabu bolon adalah rumah keluarga besar. Rumah ini tidak memiliki sekat atau kamar sehingga keluarga tinggal dan tidur bersama. Rumah Balai Batak Toba juga dikenal sebagai Rumah Bolon.

Bagi masyarakat Batak, rumah ini tampak seperti seekor kerbau yang sedang berdiri. Pembangunan rumah adat suku Batak ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Batak. Rumah ini berbentuk seperti rumah panggung yang disangga oleh beberapa tiang penyangga. Tiang penyangga rumah biasanya terbuat dari kayu. Rumah Balai Batak Toba mempunyai bahan dasar dari kayu. Menurut kepercayaan masyarakat Batak, rumah ini terbagi ke dalam tiga bagian yang mencerminkan dunia atau dimensi yang berbeda-beda. Bagian pertama yaitu atap rumah yang diyakini mencerminkan dunia para dewa. Bagian kedua yaitu lantai rumah yang diyakini mencerminkan dunia manusia. Bagian yang ketiga adalah bagian bawah rumah atau kolong rumah yang mencerminkan dunia kematian.

Rumah Balai Batak Toba Sumatera Utara
Rumah Balai Batak Toba Sumatera Utara


Rumah Adat Nias

Rumah adat Nias menjadi salah satu bentuk arsitektur rumah Adat Sumatera Utara. Rumah adat Nias ini dikenal dengan nama Omo Hada, bentuk rumah adat ini adalah panggung tradisional orang Nias. Selain itu, juga terdapat rumah adat Nias dengan desain yang berbeda, yaitu Omo Sebua.  Omo Sebua ini merupakan rumah tempat kediaman para kepala negeri (Tuhenori), kepala desa (Salawa), atau kaum bangsawan.

Rumah adat ini dibangun diatas tiang-tiang kayu nibung yang tinggi dan besar, serta beralaskan Rumbia. Bentuk denahnya ada yang bulat telu, ini di daerah Nias Utara, Timur, dan Barat. Sedangkan ada pula yang persegi panjang yaitu didaerah Nias Tengah dan Selatan.

Bangunan rumah adat ini tidak berpondasi yang tertanam ke dalam tanah. Dan sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku, sehingga tahan goyangan gempa.

Rumah Adat Nias, Sumatera Utara
Rumah Adat Nias, Sumatera Utara

Rumah Adat Melayu Sumatera Utara

Etnik Melayu di Provinsi Sumatera Utara antara lain berada di Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Batubara, Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Labuhan, suku Melayu amatlah memiliki peranan besar dalam perkembangan Medan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia.
'
Rumah Adat Melayu yang juga merupakan khasanah arsitektur dan rumah adat Sumatera utara, identik dengan penggunaan warna kuning dan hijau. Dindingnya dan lantainya terbuat dari Papan sedangkan atap menggunakan Ijuk. Rumah Adat Melayu Deli memiliki design yang unik. Bila anda ingin melihat secara langsung, anda dapat berkunjung ke daerah Tembung Sumut.

Rumah Adat Melayu di Tanjungpura - Langkat, Sumatera Utara
Rumah Adat Melayu di Tanjungpura - Langkat, Sumatera Utara


Demikian Sobat Sakuilmu, 9 Rumah Adat Sumatera Utara yang bisa kita ketahui bersama-sama. Bagaimanapun juga rumah adat Sumatera Utara merupakan peninggalan nenek moyang berbagai etnis di Sumatera Utara, yang wajib kita jaga bersama.
Semoga artikel mengenai Rumah Adat Sumatera ini bisa bermanfaat bagi Sobat semua. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini, agar orang lain pun tahu berbagai keunikan rumah adat Sumatera Utara.

Referensi :
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Bolon
  • https://batak-network.blogspot.com/2015/06/inilah-rumah-adat-pakpak-sumatera-utara.html
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Balai_Batak_Toba
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_adat_Nias

0 Response to "Rumah Adat Sumatera Utara"

Posting Komentar