Rumah Adat Kepulauan Riau

Rumah adat Kepulauan Riau | SakuilmuRumah adat Kepulauan Riau disebut dengan Rumah Belah Bubung atau disebut juga Rabung atau Bumbung Melayu. Rumah belah bubung ini masih dibagi lagi menjadi beberapa macam berdasarkan bentuk atapnya, antara lain :
  • Rumah Lipat Pandan (atapnya curam)
  • Rumah Lipat Kajang (atapnya agak mendatar)
  • Rumah Atap Layar (disebut juga Ampar Labu, bagian bawah atap ditambah dengan atap lain)
  • Rumah Perabung Panjang (perabung atapnya sejajar dengan jalan raya)
  • Rumah Perabung Melintang (perabung atapnya tidak sejajar dengan jalan)

Rumah Adat Kepulauan Riau (Rumah Belah Bubung)

Kepulauan Riau (Kepri) merupakan salah satu satu provinsi di Indonesia. Daerah ini merupakan gugusan pulau yang tersebar di perairan selat Malaka dan laut Cina selatan. Keadaan pulau-pulau itu berbukit dengan pantai landai dan terjal. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani. Sedangkan agama yang dianut oleh sebagian besar dari mereka adalah Islam.

Gambar Rumah Adat Kepulauan Riau - Belah Bubung
Gambar Rumah Adat Kepulauan Riau - Belah Bubung

Struktur Rumah Adat Kepulauan Riau

Seperti halnya rumah adat Indonesia lainnya, kondisi alam dan keyakinan masyarakat Kepulauan Riau sangat mempengaruhi pola arsitektur rumah adat Kepulauan Riau. Pengaruh alam sekitar dan keyakinan dapat dilihat dari bentuk rumahnya.

Rumah adat Riau (Rumah Belah Bubung) merupakan rumah berbentuk panggung yang didirikan di atas tiang dengan tinggi sekitar 1,50 meter sampai 2,40 meter.

Rumah Belah Bubung pada umumnya dibuat menggunakan bahan yang berasal dari alam. Tiang, gelagar, tangga, bendul, dan rasuk menggunakan bahan dari kayu; dinding dan lantai menggunakan papan; sementara atapnya yang berbentuk seperti pelana kuda terbuat dari daun nipah atau daun rumbia. Di masa sekarang, bambu juga sering digunakan untuk menggantikan kayu yang semakin sulit didapat. Begitupun dengan seng yang digunakan sebagai atap pengganti daun rumbia dan nipah.
Penggunaan bahan-bahan untuk membuat rumah, pemberian ragam hias, dan penggunaan warna-warna untuk memperindah rumah merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekpresi nilai keagamaan dan nilai budaya.

Fungsi Rumah Adat Kepulauan Riau

Adapun fungsi Rumah Adat Kepulauan Riau yang disebut dengan Rumah Bubung ini adalah sebagai rumah untuk tempat tinggal masyarakat Kepulauan Riau. Rumah ini juga dikenal dengan sebutan rumah Rabung atau rumah Bumbung Melayu. Nama rumah Belah Bubung diberikan oleh orang Melayu karena bentuk atapnya terbelah. Disebut rumah Rabung karena atapnya mengunakan perabung. Sedangkan nama rumah Bubung Melayu diberikan oleh orang-orang asing, khususnya Cina dan Belanda, karena bentuknya berbeda dengan rumah asal mereka, yaitu berupa rumah Kelenting dan Limas.

Untuk menunjang fungsi rumah adat Kepulauan Riau sebagai rumah tempat tinggal pada umumnya, maka pola rumah ini dibagi menjadi beberapa bagian ruangan berdasarkan kegunaannya, yaitu:
  • Selasar atau pendopo

    Selasar ada 3 macam, yaitu selasar luar (bagian luar), selasar jatuh, dan selasar dalam. Selasar digunakan untuk menerima tamu, tempat bersantai, dan tempat meletakan alat-alat pertanian.
  • Rumah induk

    Bagian ini terbagi lagi ke dalam 3 ruangan, yaiu ruang muka (tempat ibu dan anak perempuan yang masih berumur dibawah 7 tahun), ruang tengah (tempat tidur anak laki-laki yang sudah berumur 7 tahun atau lebih), serta ruang dalam (tempat tidur orang tua).
  • Penganggah

    Disebut juga ruang dapur atau telo. Digunakan sebagai tempat menyimpan alat pertanian, cadangan makanan, serta tempat untuk aktivitas memasak.

Proses Pembuatan Rumah Adat Kepulauan Riau (Rumah Belah Bubung)

Besar kecilnya rumah yang dibangun ditentukan oleh kemampuan pemiliknya, semakin kaya seseorang semakin besar rumahnya dan semakin banyak ragam hiasnya. Namun demikian, kekayaan bukan sebagai penentu yang mutlak. Pertimbangan yang paling utama dalam membuat rumah adalah keserasian dengan pemiliknya. Untuk menentukan serasi atau tidaknya sebuah rumah, sang pemilik menghitung ukuran rumahnya dengan hitungan hasta, dari satu sampai lima. Adapun uratannya adalah: ular berenang, meniti riak, riak meniti kumbang berteduh, habis utang berganti utang, dan hutang lima belum berimbuh. Ukuran yang paling baik adalah jika tepat pada hitungan riak meniti kumbang berteduh.

Selain itu dalam proses pembuatan rumah belah bubung ini, masyarakat melayu di Kepulauan Riau ini percaya bahwa untuk membangun rumah adat Kepulauan Riau  harus melalui serangkaian proses panjang. Proses tersebut dilakukan agar nantinya rumah yang sudah dibangun dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi penghuninya. Proses tersebut meliputi musyawarah keluarga, penentuan hari baik, penentuan lokasi, pengumpulan bahan, dan seterusnya hingga rumah selesai di bangun.

Motif Hiasan Rumah Belah Bubung

Motif hiasan atau ukiran pada Rumah Adat Kepulauan Riau (Belah Bubung) adalah motif-motif khusus yang diaplikasikan pada dinding rumahnya. Motif tersebut bisa berupa motif flora, motif fauna, motif alam, motif kaligrafi dan motif abstrak.
  • Motif flora dapat ditemukan dalam bentuk kelompok kaluk pakis, kelompok bunga-bungaan, dan kelompok pucuk rebung.
  • Motif fauna ditemukan dalam bentuk semut beriring, itik sekawan, dan lebah bergantung
  • Motif alam ditemukan dalam bentuk Bintang-Bintang dan Awan Larat
  • Motif kaligrafi atau kalimah merupakan ukiran yang berasal dari ayat-ayat al-Quran.
  • Motif abstrak ditemukan dalam Selembayung yang diletakkan di puncak atap, Pinang-Pinang atau Gasing-Gasing, Sayap Layang-Layang yang diletakkan pada ujung kaki cucuran, Papan Tebuk; dan Balam Dua Selengek atau ukiran berbentuk burung Balam.

0 Response to "Rumah Adat Kepulauan Riau"

Posting Komentar